Sambut Bulan Pencegahan Bunuh Diri: Indonesia Sehat Jiwa Usung Kampanye ‘Lelaki Harus Bercerita’ di IdeaTalks IdeaFest 2026
JAKARTA, INDONESIASEHATJIWA.COM – Memperingati Bulan Pencegahan Bunuh Diri Internasional yang mengangkat tema global periode 2024–2026 “Changing the Narrative on Suicide” (Mengubah Narasi Bunuh Diri) dengan pencerahan utama “Start the Conversation” (Mulailah Percakapan), Indonesia Sehat Jiwa (ISJ) terus berkomitmen meruntuhkan stigma seputar kesehatan mental di Indonesia.
Selaras dengan ajakan global dari International Association for Suicide Prevention (IASP) tersebut, Pendiri sekaligus Ketua Indonesia Sehat Jiwa, Sofia Ambarini, hadir sebagai salah satu narasumber dalam panggung bergengsi IdeaTalks IdeaFest 2026. Sesi khusus ini mengusung tajuk mendalam: “The Ultimate Strength: Men Can Tell Stories, Cry and Give Up” (Kekuatan Sejati: Pria Bisa Bercerita, Menangis, dan Menyerah).
Mendefinisikan Ulang Maskulinitas dan Kerentanan Pria
Di tengah konstruksi sosial yang sering kali menuntut pria untuk selalu tegar, diam, dan memendam tekanan sendirian, panggung IdeaTalks menjadi wadah diskusi yang hangat dan inklusif. Sesi ini mempertanyakan kembali stigma lama: Bagaimana jika kekuatan sejati tidak selalu berarti harus bertahan tanpa batas?
Diskusi interaktif ini menghadirkan tokoh-tokoh inspiratif di bidang kesehatan mental dan media, di antaranya:
- Sofia Ambarini – Pendiri & Ketua Indonesia Sehat Jiwa (ISJ)
- dr. Jiemi Ardian, Sp.KJ – Co-Creator Trauma Processing Therapy
- Rhaka Ghanisatria – CEO & Co-Founder Menjadi Manusia
- Mayfree Syari – Jurnalis & Moderator
Para panelis mengupas tuntas pentingnya membuka ruang aman bagi pria untuk mengekspresikan emosi, merayakan kerentanan (vulnerability), serta mengakui kapan waktu yang tepat untuk beristirahat atau meminta bantuan tanpa rasa malu.

“Lelaki Harus Bercerita” dan Semangat “Be a Bridge, Save a Soul”
Kehadiran Indonesia Sehat Jiwa dalam IdeaFest 2026 menjadi bentuk aksi nyata dari kampanye khusus yang terus digaungkan ISJ, yaitu “Lelaki Harus Bercerita”.
Ketua Indonesia Sehat Jiwa, Sofia Ambarini, menekankan bahwa memendam beban sendirian akibat tekanan toxic masculinity dapat meningkatkan risiko krisis psikologis hingga pikiran bunuh diri pada pria.
“Di dunia yang menuntut pria untuk selalu kuat dan tidak boleh terlihat lemah, membiarkan diri kita merasakan emosi, menangis, dan bercerita adalah bentuk keberanian tertinggi. Mencegah bunuh diri dimulai dari keberanian untuk membuka percakapan awal sederhana,” ungkap Sofia Ambarini.
Sofia menambahkan bahwa hal ini memuat semangat dasar dari tagline pencegahan bunuh diri Indonesia Sehat Jiwa: “Be a Bridge, Save a Soul” (Menjadi Jembatan, Menyelamatkan Jiwa).
“Kita semua bisa menjadi ‘jembatan’—jembatan pertolongan, jembatan pendengar yang tanpa menghakimi, serta jembatan yang menghubungkan seseorang dari kegelapan menuju harapan baru. Satu percakapan empati dapat menyelamatkan satu jiwa,” tegas Sofia.
Mari Mulai Percakapan dan Saling Menjaga
Momentum Bulan Pencegahan Bunuh Diri ini diharapkan dapat mendorong masyarakat luas untuk lebih peka terhadap kondisi emosional orang-orang di sekitar, terutama kaum pria yang sering kali menyembunyikan luka psikologisnya di balik senyuman.
Indonesia Sehat Jiwa mengajak seluruh lapisan masyarakat untuk terus menyebarkan kebaikan, meruntuhkan stigma kesehatan mental, dan berani memulai percakapan hangat bersama orang-orang tersayang.
Bagi Anda atau kerabat yang membutuhkan ruang aman untuk berbagi cerita, pendampingan konseling, atau ingin berkolaborasi dalam gerakan kesehatan jiwa, silakan kunjungi website resmi kami di indonesiasehatjiwa.com atau ikuti perkembangan kampanye kami di Instagram @indonesiasehatjiwa.
Tentang Indonesia Sehat Jiwa:
Indonesia Sehat Jiwa (ISJ) adalah organisasi non-profit yang bergerak di bidang edukasi, pencegahan, dan intervensi krisis kesehatan mental di Indonesia. Melalui tagline “Be a Bridge, Save a Soul”, ISJ bertekad memberikan ruang aman, layanan konseling berbasis komunitas, serta program edukasi untuk menekan angka bunuh diri dan menciptakan masyarakat yang berempati.