Berdamai dengan Berisiknya Isi Kepala: Catatan untuk Siapa pun yang Sedang Berjuang
Oleh : Ahmad Alif Riyan Mahdy, S.P., M.P.
Peer Support “Indonesia Sehat Jiwa”
Mungkin saat ini, ada banyak dari kita yang merasa pikiran begitu riuh, padahal tubuh tidak sedang melakukan aktivitas yang berat sekalipun. Kepala terasa terus berputar, tak mau berhenti. Ia sibuk mengulang-ulang setiap celah kesalahan yang sudah berlalu, atau justru melompat jauh ke depan, mencemaskan hal-hal yang belum tentu terjadi esok hari.
Kondisi seperti ini lazim disebut overthinking. Seharusnya, pikiran bekerja untuk membaca memori dengan jernih dan damai. Namun dalam kondisi ini, ia berbalik menjadi sesuatu yang melelahkan yang terus-menerus memutar skenario di luar kendali kita.
Jiwa yang Juga Perlu Ruang
Bagi sebagian orang, istilah “kesehatan mental” mungkin masih terdengar asing atau terlalu berat. Padahal, maknanya cukup sederhana yaitu kondisi di mana seseorang mampu bersikap dan berfungsi dengan sebaik-baiknya dalam setiap aktivitas hidupnya.
Kita tentu sering mendengar ungkapan “sehat jiwa dan raga”. Ya, itulah intinya bahwa raga yang sehat harus berjalan beriringan dengan jiwa yang sehat. Sayangnya, kita seringkali hanya sibuk mengobati luka fisik, sementara luka jiwa dibiarkan menganga begitu saja. Padahal, jiwa atau mental inilah penggerak utama dari setiap langkah yang kita ambil. Segala kegiatan akan terasa jauh lebih bermakna ketika kita menjalaninya dengan hati yang tenang.
Mengapa Saat Ini Terasa Begitu Berat?
Tidak bisa dipungkiri, perkembangan zaman dan kemajuan teknologi membawa lebih banyak tuntutan dalam hidup kita. Arus informasi yang masuk tanpa henti membuat kepala kita penuh hingga titik jenuh, sampai-sampai kita merasa lelah hanya dengan berada di tengah keramaian lingkungan.
Belum lagi kebiasaan tanpa sadar membandingkan hidup kita dengan tampilan kehidupan orang lain di media sosial. Akibatnya, rasa minder mulai tumbuh, tekanan sosial tak kunjung reda, dan perlahan-lahan rasa cemas menggerogoti kepercayaan diri kita dari dalam.
Tekanan seperti ini dirasakan oleh siapa pun, tanpa terkecuali. Sebagai akademisi, saya ingin secara khusus menyapa teman-teman pelajar dan mahasiswa, karena saya tahu betul beratnya menanggung ekspektasi keluarga, tuntutan studi, dan keraguan akan masa depan secara bersamaan.
Rasa cemas itu nyata, bukan ilusi. Namun percayalah, kondisi ini bukan hanya milik kalian sendiri. Ujian dan keadaan yang tidak ideal adalah bagian tak terpisahkan dari setiap perjalanan. Hal terbaik yang bisa kita lakukan adalah belajar merespons ketidakidealan itu dengan lebih bijak.
Memulai Langkah Kembali ke Diri Sendiri
Jika kamu merasa terjebak dalam bayang-bayang kecemasan atau pikiran yang sumpek, cobalah melakukan ini secara perlahan:
1. Validasi Perasaanmu
Jangan terburu-buru menolak atau menekan rasa cemas yang muncul. Cukup katakan jujur kepada dirimu sendiri: “Aku sedang merasa takut,” atau “Aku sedang merasa buntu.”. Teknik sederhana ini membantu memberi nama pada perasaan tersebut, dan itulah langkah pertama yang membuka jalan menuju pemulihan.
2. Berdamai dengan Ketidaksempurnaan
Cobalah menerima kondisi yang sedang kamu hadapi, meski perasaan yang hadir adalah “Mengapa aku tidak produktif hari ini?”. Beri dirimu jeda. Tarik napas, dan mulailah berdamai dengan keadaan yang belum ideal ini.
3. Apresiasi Kemenangan Kecil
Ketika perasaan mulai sedikit mereda, mulailah bergerak dengan langkah kecil. Selesaikan satu hal saja dari persoalan yang sedang kamu hadapi, lalu apresiasi dirimu sendiri. Katakan dalam hati: “Aku hebat. Aku bersyukur karena sudah bertahan sejauh ini, dan itu adalah pencapaian yang luar biasa.”.
4. Jangan Memikul Semuanya Sendiri
Jika rasa cemas mulai mendominasi dan terasa di luar batas kemampuanmu, ingat bahwa mencari bantuan profesional adalah salah satu keputusan terbaik dan paling bijak yang bisa kamu ambil. Itu bukan tanda kelemahan, justru sebaliknya, itu adalah bukti bahwa kamu mengenali batasan dirimu. Bersama tenaga profesional, kamu bisa lebih terarah dalam menemukan titik balik dan ketenangan yang kamu butuhkan.
Untuk kamu yang saat ini sedang berjuang, baik sebagai pelajar, pekerja, orang tua, atau dalam peran apa pun, ingatlah bahwa kamu tidak sendirian. Berhenti sejenak bukan berarti kalah. Itu adalah cara kita menata ulang diri agar bisa melangkah lebih jauh dengan jiwa yang lebih sehat.
Dan pesan yang ingin saya titipkan:
“Tetaplah melangkah dan berpikir positif atas semua skenario hidup yang telah berlalu, yang sedang dijalani, maupun yang belum datang. Sebab bayangan kegagalan hanyalah permainan memori otak yang belum tentu menjadi kenyataan. Percayalah pada takdir Tuhan, dan teruslah menjadi pribadi yang bermanfaat, dengan kepekaan terhadap kesehatan mental diri sendiri maupun orang-orang di sekitar kita.”